PUTRA BALAMBANO SOROT KEPANIKAN PETAHANA BUPATI YANG TERKESAN MELAKUKAN POLITICAL GIMMICK
  Viewer : 1256 Kali

Penulis  : HR.                                                  Editor     : Redaksi

Lutim,Libertiekspress.Com-

Petahan Panik dan ‘Political Gimmick’
Duel Husler – Budiman vs Ibas – Rio adalah
Istilah-istilah yang menggelitik belakangan ini, bagaimana tidak? Pembahasan pertarungan dua bakal calon bupati ini dikalangan masyarakat membeberkan wacana yang diangkat dalam diskusi politik Masing-masing kubu hingga kemedia sosial sepertinya memiliki ragam adagium yang terkesan dipersiapkan sebagai senjata jelang kontestasi.

“ Ada yang panik?” kalimat itu dihembuskan ketika muncul beragam isu yang mendiskreditkan petahana, petahana Bupati terkesan gerah atas apa yang dituduhkan dan berupaya membalik kondisi politik yang sebenarnya.

“Mungkin itu hanya sekadar political gimmick”, mungkin kalimat ini dapat mewakili betapa situasi politik jelang kontestasi ini sebatas memainkan isu bukan realitas kontestasi politik yang sesungguhnya.

Demokrasi telah membuka pintu kebebasan berekspresi setiap orang seluas-luasnya, dimana diksi-diksi kalimat politik telah banyak menjadi polusi dan mencemari berbagai hal, termasuk sosial, politik, bahasa, bahkan keragaman.

Petahana Panik
Istilah “Posko Pemenangan” misalnya, jelas berkonotasi “perlawanan” yang mungkin saja berdimensi fisik, sehingga wajar jika hal ini ditanggapi secara panik.

Tensi politik masing-masing kubu yang saat ini memang telah mempersiapkan ajang pertempuran politik yang kadang tampak panik atau hanya sebatas “gimmick-gimmick”. Lihat saja, isu-isu yang sengaja dibuat untuk menghambat atau memperburuk citra kandidat penantang, diangkat dan berharap sukses menjadi konsumsi masyarakat dan warganet.

Bisa saja memang ada kubu yang mengalami kepanikan di saat banyak perihal negatif yang dibongkar dan dijadikan isu kepolitikan yang benar-benar menggelikan. Kepanikan dalam politik memang hal yang wajar, karena politik tentu saja ajang kontestasi soal kalah-menang dalam memperebutkan kekuasaan.

Namun, masalahnya tak semua orang cerdas dalam menyikapi isu politik dan ini berdampak kurang baik bagi cara pandang masyarakat terhadap dunia politik itu sendiri. Politik tentu saja seharusnya dipahami sebagai kegiatan yang dapat “mendamaikan dan mensejahterakan” dua kepentingan yang berbeda sehingga masing-masing berkompetisi secara sehat untuk mendapatkan porsi-porsi target dalam rangka memenuhi kesejahteraan rakyat.

Jika kedua kubu politik yang belakangan terciduk media justru saling serang dan menjatuhkan, bahkan masing-masing saling mengungkap keburukannya, jelas ini bukan bagian dari iklim kompetisi politik yang sehat dan demokratis.

Menurut Ismail Samad, S.Ip mantan DPP 2 periode sekolah peradaban saat di temui dikediamannya, Selasa 18 Agustus 2020, bahwa kepanikan petahana hanyalah mempertontonkan kegagalannya,” Munculnya istilah “Tetangga panik” atau ungkapan “political gimmick” seolah-olah menunjukkan petahana memang miskin visi-misi bahkan terkesan sepi ideologi politik, di sejumlah kegiatan bahkan hingga kepesta pernikahan bagian dari petahana mengungkapkan upaya pembelaan, sekedar berangan-angan, berasumsi hanya sebatas penggiringan opini yang berawal dari “katanya”. Ungkpnya

Lanjut Putra Balambano (Togo) ini,”Sangat disayangkan, ketika salah satu kubu menyatakan akan membangun perlawanan lalu ramai-ramai dikomentari namun terkesan tak menyentuh substansinya, Petahana lebih banyak mempersiapkan isu-isu politik tandingan yang akan meng-counter segala kepanikan yang selama ini dituduhkan, bagi saya ini sebuah tontonan kekanak kanakan”.

“Gerakan seperti ini hanya sanggup bermain pada level isu-isu yang bersifat imaginatif-kontemplatif hampir tak mampu menghadirkan nilai substansi kepolitikan yang realistik-konstruktif yang semestinya memang diperjuangkan, Saya kira, politik belakangan ini semakin kehilangan substansinya sebagai bagian dari upaya menjawab berbagai problematika kekuasaan yang tuntutannya tentu saja aspek-aspek kesejahteraan rakyat, Apa yang disebut ajang kontestasi tak lebih dari perang isu sekadar pelipur lara bagi setiap kubu yang dilanda memang dilanda kepanikan. Banyak hal-hal penting yang justru semakin tak menjadi perhatian bagi masing-masing kubu yang konon “bertarung” mati-matian demi mengurus lebih dari 200 ribu masyarakat kab. Luwu Timur.

Lebih Lanjut putra suku To Rongkong ini mengatakan,”Sepertinyang panik tak hanya sebatas pihak yang berkontestasi,malah  hampir setiap orang dekat calon bupati sepertinya ikut-ikutan dalam suasana kepanikan yang tak jelas. Kita Lihat saja berbagai komentar masyarakat di group group facebook yang sedikit banyak dapat menggambarkan suasana kepanikan yang entah panik terhadap apa, Media sosial terutama, yang menjadi basis tumpah ruahnya komentator dadakan pendukung dan partisan politik yang entah mereka sedang memperjuangkan apa. Bahkan, media pun pada akhirnya harus memberi ruang kepada mereka, bahkan tak jarang kehilangan sisi objektivitasnya karena cenderung “membela” salah satu kontestan politik”.

“Sangat disayangkan, jika politik sekadar kontes perang mulut antar pendukung, adu argumen yang semestinya dapat “mendamaikan” beragam kepentingan dalam jalur-jalur pro rakyat”. Tutupnya

ARTIKEL TERKAIT

Please enter your name.
Please enter a valid phone number.
Please enter a message.
Please check the captcha to verify you are not a robot.