WASPADA, POLITIK KEBENCIAN LEWAT ISU AGAMA, SUKU & RAS DI TAHUN POLITIK TERKESAN JADI JUALAN
  Viewer : 1640 Kali

Indonesia,Libertiekspress.Com–Politik kebencian dua kata yang saling kontradiktif. Karena politik memiliki konotasi seni untuk mempengaruhi atau mengajak, Mengajak disini dalam konteks politik, dimana didalamnya hampir tak ada unsur yang terkait keburukan, karena orang berpolitik sebisa mungkin menunjukkan hal baik agar orang percaya dan memihak.

Sedangkan kebencian didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perasaan benci yang dimiliki seseorang atau kelompok tertentu saja yang tujuannya menolak, bukan mengajak, Namun demikian, mengajak dengan didahului kebencian tampaknya kian marak belakangan ini yang tentu saja memiliki tujuan buruk yang serba dipolitisisasi.

Yang paling menyedihkan lagi adalah politik kebencian yang bernuansa keberagamaan yang tidak wajar, dimana ditahun politik ini terkesan agama, suku, ras tidak lagi dipahami menjadi sebuah entitas perekat sosial dengan nuansa kedamaian didalamnya, namun dijadikan pemicu dorongan kebencian pada pihak atau kelompok lain yang digiring dalam dunia politik kotor.

Kegilaan politik yang digiring dalam agama, suku dan ras cepat atau lamban jadi pemicu dalam dimensi perputaran poros politik kebencian.

Fenomena Politik kebencian yang menguat dari berbagai pihak, pada akhirnya menimbulkan simptom yang semakin terjebak dalam pusaran politik kebencian, yang tidak kita sadari dibangun oleh setiap kelompok atau individu, entah itu penguasa, para pemangku kepentingan, tokoh agama, tokoh politik, terus menerus berada dalam pusaran kebencian yang tanpa sadar telah dipolitisasi. Maka, konflik horizontal dan vertikal, sulit dihindari, bahkan masing-masing pihak pada akhirnya terus saling klaim atas kebenarannya sendiri-sendiri. Yang terjadi justu timbulnya nuansa ketidak adilan yang masing-masing dirasakan akibat politik kebencian yang dibangun oleh mafia politik ini.

Setiap orang memang memiliki cara pandang yang berbeda soal kebencian, terlebih jika memiliki keterkaitan erat dalam konteks politik, bagi sebagian orang, ketika merasa bahwa kepentingan dirinya mulai terusik oleh banyaknya ungkapan sindiran, nyinyiran, atau kritikan pihak lain akhirnya dihubung-hubungkan dengan isu keagamaan, suku dan ras tertentu, reaksi akan timbul yang mungkin saja dilanjutkan menjadi isu soal penistaan agama, ujaran kebencian dll, sebagian orang yang menganggap bahwa itu sekadar dinamika politik atau wacana pemikiran, walaupun terdapat kritik yang dirasa tajam didalamnya, hanya dianggap sebuah kewajaran yang mungkin tak perlu dibesar-besarkan. Sikap “wajar” dalam hal apapun, tentu saja akan lebih banyak membuka ruang dialog yang pada akhirnya berhasil membangun sebuah titik temu yang bernilai sangat positif dalam konteks hubungan sosial yang lebih luas.

Semua unsur seharusnya melibatkan diri dalam membangun dan mempelopori praktik politik sehat, artinya kita dituntut untuk menangkal politik kotor yang pada akhirnya merebak dan berdampak buruk terhadap situasi kondusifitas masyarakat.

Jika hal ini dibiarkan maka bisa jadi semakin diperparah oleh aktor-aktor tertentu yang berlebihan dalam menyikapi politik yang menggiringnya ke kelompok Agama, Suku dan Ras.

Ismail Samad, S.Ip tokoh pendiri Sekolah Peradaban mengungkapkan bahwa, “Gerakan kotor ini terkait dengan momen tahun politik? Apakah memang sudah menjadi skenario dalam wadah grand design teori konspirasi Entahlah,” Ungkapnya

“Semua orang berhak berpendapat, saya benganggapan hal ini merupakan bagian dari suatu proses kedewasaan berpolitik, berbangsa, dan bernegara, namun harus dilalui oleh serangkaian peristiwa yang terkesan anomali”. Tambahnya

“Ini adalah tahun politik, memiliki momentum yang potensial untuk memperkokoh praktik politik kebencian di tengah masyarakat. Politik yang sebelumnya berkonotasi positif, karena adanya seni mengajak dan mempengaruhi secara persuasif agar mau berkontribusi membangun kesadaran masyarakat mempererat solidaritas, meningkatkan kesejahteraan dengan membuat aturan dan kebijakan, malah kian hari kian terpuruk, jatuh menjadi seni dalam mengajak masing-masing pihak dalam praktik kebencian, bukan kedewasaan yang seharusnya cinta perdamaian. Yang paling menyedihkan terkesan Agama, Suku dan Ras diperalat untuk saling membenci, kondisi ini bukan tidak mungkin dilakukan kubu tertentu, semoga masyarakat bisa bangkit dan cerdas dalam menentukan pilihan serta menghukum para politikus-politikus kotor”.Tutupnya

Penulis : HR

ARTIKEL TERKAIT

Please enter your name.
Please enter a valid phone number.
Please enter a message.
Please check the captcha to verify you are not a robot.