JELANG PILKADA LUWU TIMUR, POLITIK  KEKANAK KANAKAN TERUS DIHEMBUSKAN
  Viewer : 553 Kali

Liputan : HR

Editor : Redaksi

Lutim, Libertiekspress.Com-

Pengamat politik yang juga tokoh LPPMI, Ismail Samad, S.I.Pol menilai bahwa sistem gerakan politik di Kab. Luwu Timur saat ini bersifat kekanak-kanakan atau infantil disorder.

Galank sapaan akrab Ismail Samad yang juga putra Balambano tersebut mengungkapkan bahwa, sejumlah strategi yang digunakan baik dari calon hingga ke tim sukses salah satu calon bupati Luwu Timur Periode 2021 – 2026 kesannya adalah gerakan yang mempertontonkan sifat kekanak kanakan “Persaingan Makin Ketat, siapa selamat?, Siapa Blunder?”, strategi yang nampak dimata publik hari ini adalah politik kekanak kanakan”. Ungkap Ismail, Rabu 27-7-2020

“Saya bilang politik elektoral sekarang mengidap infantil disorder. Infantil istilah psikologis sebenarnya, intinya bagaimana bersifat kekanak-kanakan yang tak sadar tengah dipertontonkan,” Tambah Mail

Lanjut Ismail,”Apa yang dibuat oleh tim tetangga di Copy Paste, saling klaim dan saling serang membabi buta tampa tau siapa lawan dan siapa kawannya, saya sebut sifat tersebut, menghilangkan rasa objektivitas seseorang ketika memandang sesuatu”.

“Hal kekanak kanakan itu tercermin ketika muncul hasil survei sejumlah media terkait elektabilitas kandidat, tim calon bupati tersebut hanya akan menilai sistem demokrasi hingga sistem prediksi tersebut berada di jalur yang benar jika hasil survei menguntungkan kandidat yang didukung”. Menurut Alumni Universitas Islam Negeri Syahid Hidayatullah Jakarta ini

Lebih lanjut tokoh salah satu sekolah Peradaban di Jakarta ini membeberkan,” Kita lihat saja disejumlah group-group facebook tentang pemilihan bupati Lutim tersebut, baik itu hasil survei, konten, apapun, yang tidak sesuai, yang tidak menguntungkan calon yang didukung, karena fanatisme politik tadi, maka dia mengatakan demokrasi tidak berjalan dengan baik, surveinya salah, alat ukurnya salah dan sejumlah kalimat nyinyir yang lagi-lagi sifat kekanak kanakan”. Ucapnya sambil tertawa

“Jadi orang tidak bisa melihat lagi objektivitas itu, ini yang saya maksud kekanak kanakan”.Tutupnya

ARTIKEL TERKAIT

Please enter your name.
Please enter a valid phone number.
Please enter a message.
Please check the captcha to verify you are not a robot.