Satu Keluarga Di Kec.Wasuponda Kadang Hanya Makan Ubi Dan Pisang Untuk Mengganjal Perut, Ini Tanggapan Dinsos Kab.Luwu Timur
  Viewer : 1999 Kali

Lap; Herman, S

Lutim,Libertiekspress.com -Warga kurang mampu di Dusun rende-rende, Desa Parumpanai, Kec. Wasuponda, Kab.Luwu Timur yang dikabarkan sebelumnya terkadang hanya makan ubi(Singkong), jagung  & pisang untuk memenuhi kebutuhan makan sehari hari mendapat respon positif dari Drs. Sukarti yang menjabat sebagai Kepala Dinas Sosial, Kab. Luwu Timur.

Sebelumnya kehidupan yang memprihatinkan warga Desa Parumpanai yang akrab disapa Indo Bittang tersebut di postingan salah satu warga yang diketahui adalah tetangga dekatnya lewat laman facebook atas nama Martha Tamara pada Jumat (8 Mey 2020).

Menanggapi hal tersebut Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Anak kab. Luwu Timur, Drs. Sukarti, kepada media ini membenarkan kalau keluarga Indo Bittang adalah keluarga yang kurang mampu,”Yang bersangkutan saat ini sudah terima bantuan sembako atau rastra setiap bulan, serta bantuan sembako dari provinsi yang disalurkan Minggu kemarin” jelas Drs. Sukarti.

Ditanya terkait bagaimana solusi terkait bangunan rumah tinggal  Indo Bittang dan keluarganya  tersebut yang berada pada zona cagar alam, ini tanggapan Sukarti , “Secepatnya kami akan berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat untuk mencari solusi apa yang mesti dilakukan” tutup Drs. Sukarti

Terpisah, Ketua DPC Lembaga Pemerhati dan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia ( LPPMI) Arsyad, menyayangkan respon pihak Pemda Luwu Timur dalam hal ini Kepala Desa yang tidak tanggap dalam mencari solusi terhadap warganya,” Ironis memang, rumah warga tersebut berdiri diatas wilayah yang berstatus Cagar alam, namun apakah tak ada solusi? misal melakukan permohonan kepada pemerintah pusat agar status tanah tersebut beralih fungsi melihat kondisi lahan yang sudah di diami warga selama bertahun tahun, bukankah jika diperhatikan wilayah tersebut sudah tidak memenuhi unsur Cagar Alam karena sudah tidak mempunyai ciri khusus cagar alam”, Imbuhnya

Arsyad menambahkan,” Cagar Alam merupakan kawasan konservasi yang dikelola oleh pemerintah pusat, dimana wilayah konservasi perkembangannya dibiarkan secara alami, maka kawasan Cagar Alam bukan menjadi kawasan yang dapat dijadikan sebagai perkampungan, objek wisata dan kegiatan komersil lainnya, namun terfokus pada kegiatan yang berguna bagi kelangsungan Cagar Alam dan pengembangan ilmu pengetahuan seperti penelitian yang tentu seijin Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat dimana Ijin tersebut berupa SIMAKSI atau Surat Ijin Masuk Konservasi yang ditunjukkan ketika hendak memasuki kawasan Cagar Alam”.

Lanjut Arsyad,” Lucu juga karena pemerintah terkait sudah tau itu wilayah cagar alam tapi kenapa tidak ada tindakan tegas sebelumnya? misal, melarang masyarakat melakukan aktivitas di atas wilayah cagar tersebut, kalau sudah seperti ini jelas pemerintah dilema, kan lucu? Tidak terima bantuan bedah rumah tapi bantuan lain masuk, selain itu, wayah ini terbentuk satu dusun, jika merujuk ke peta  nampak jelas disusun ini 90% masuk wilayah cagar alam, lantas alasan kades dan dinas terkait apa?”.

“Seharusnya Kades dan dinas terkait dalam hal ini mampu memberikan solusi, bukan justru mengecam warga yang memviral kan masalah ini karena ini masalah kemanusiaan”. Tutup Arsyad

ARTIKEL TERKAIT

Please enter your name.
Please enter a valid phone number.
Please enter a message.
Please check the captcha to verify you are not a robot.