Dituding Ada Campur Tangan Aparat, Ini Tanggapan  Penambangan Rakyat Di Pesisir Pantai Panjang 
  Viewer : 1374 Kali

Paritiga,Bangka Barat, Libertiekapress-com –

Terkait pemberitaan di salah satu media on line yang menyebut pada kegiatan tambang besar ilegal yang memberitakan ada  sebanyak 8 unit alat berat jenis excavator (PC) yang beroperasi dikawasan Hutan Lindung (HL), wilayah Pantai Pasir Panjang Kemuja di desa Ketap, kecamatan Parittiga, Bangka Barat Kamis, 2/3/2020.

Pemberitaan tersebut membuat geram warga setempat khususnya masyarakat penambang tradisional di Desa Ketap dan para pekerja TI.

Kepada Crue Liberti warga Desa Ketap Kecamatan Paritiga menyampaikan apa yang diberitakan oleh salah satu media on line tersebut kuat dugaan tidak berimbang, dan terkesan membenturkan masyarakat penambang dengan aparat penegak hukum (APH).

Menurut mereka selama ini kegiatan penambangan timah dikawasan tersebut sudah lama berlangsung dan dikerjakan oleh masyarakat setempat dengan sistem penambangan tradisional seperti Ti Robin, dan Ti Rajuk.

“Sudah dari dulu kegiatan penambangan rakyat berlangsung didaerah ini, dan coba bapak lihat sendiri tidak ada delapan alat berat seperti yang diberitakan itu,” tegas Ulik (Warga) saat bertemu dilokasi Pantai Pasir Panjang, Jum’at (3/3/2020).

Namun ia tidak menampik bahwa dulunya memang pernah ada alat berat yang beroperasi,” iya pernah ada alat tapi unit tersebut dirental oleh masyarakat penambang tradisional untuk membuat lubang, itupun tidak lama hanya beberapa  jam saja”. Bebernya

Ketika, disinggung apakah kegiatan penambangan  yang dilakukan oleh masyarakat setempat dibekingi oleh APH tegas dibantahnya.

” Siapa yang ngomong itu bahwa kegiatan disitu dibekingi oleh APH..?, coba katakan aparat hukum yang mana? itu jelas membuat opini dan itu jelas hoax..!, jangan benturkan masyarakat dengan aparat hukum, jangan mengadu domba aparat hukum, karena situasi saat ini baik TNI ataupun Polri disibukkan oleh penanggungulangan Virus Corona, nggak mungkinlah mereka membekingi kegiatan yang melanggar hukum “, Tambah Ulik

Ia juga menyesalkan mengapa ada media yang membuat berita tersebut dan membawa nama wartawan Kejaksaan seolah-olah yang turun ke lokasi membawa nama  lembaga institusi hukum.

” Kami merasa aneh sekali sebagai masyarakat awam merasa ditakut-takuti bahwa seolah-olah yang turun ke lokasi membawa nama institusi kejaksaan, itu sama artinya membentur masyarakat dengan lembaga institusi hukum ?” Tanya Ulik

Bahkan dibeberkannya, oknum wartawan yang turun ke lokasi dulu adalah bagian dari pelaku penambangan yang diketahui  pernah membekingi mitra dan  mendapat jatah setiap ke lokasi tambang yang ada di sekitar Paritiga.

” Ah sudahlah pak, kami tahu mana wartawan yang profesional dan bukan? apalagi orang itu sudah terekam jejak selama menjadi wartawan,” katanya.

Saat ditanya, hasil tambang dijual kepada siapa, mereka menegaskan bahwa hasil penambangan dijual bebas kepada siapapun.

“Timah disini tidak ada bos yang menampung… siapa saja mau beli kami jual,” kata Reno.

Sementara itu, Gunadi (40) warga pendatang yang menambang di daerah tersebut menegaskan bahwa tidak ada alat berat yang beroperasi dikawasan itu.

“Saya setiap hari kerja disini, tidak ada alat berat yang berkerja, dan bapak silahkan  lihat sendiri kondisi bagaimana tambang besar ini” Kata Gunadi.

Berdasarkan hasil investigasi lapangan, delapan alat berat yang disebutkan beroperasi pada kegiatan tambang skala besar tersebut tidak terlihat, yang nampak hanya beberapa ponton TI Rajuk dibibir pantai Pasir Panjang.

Dan pantauan awak media sebelum memasuki lokasi Pasir Panjang terlihat puluhan pondok bangunan yang didiami oleh para penambang rakyat.

(Tim)

ARTIKEL TERKAIT

Please enter your name.
Please enter a valid phone number.
Please enter a message.
Please check the captcha to verify you are not a robot.