Pengungsi Bencana Donggala Hanya Di Jatah Tiga Liter Beras Sehari Untuk 40 Orang
  Viewer : 449 Kali

 

Tenda penampungan pengungsi

Donggala, Libertiekspress-

Ratusan pengungsi yang ada di penampungan korban gempa dan tsunami di Desa Marana, Kec. Sindue, Kab. Donggala hanya bisa pasrah menerima keadaan setelah sebelumnya daerah mereka digungcang gempa dan di terjang gelombang tsunami yang memporak porandakan perkampungan mereka pada  jumat 28/9/2018.

Simpatik dan uluran tangan rakyat Indonesia datang dari segala penjuru demi meringankan beban saudara-saudara mereka yang menjadi korban gempa dan tsunami dari segi bantuan tenaga untuk evakuasi hingga bantuan ribuan truk logistik berupa pakaian dan makanan dan obat-obatan yang datangnya tidak hanya dari daerah Sulawesi pada umumnya tapi juga dari beberapa daerah di luar Sulawesi seperti jawa dan Kalimantan serta beberapa daerah lain di Indonesia.

Namun ada yang unik dan menjadi pertanyaan, apakah pihak Pemda Donggala blum mampu merealisasikan bantuan kemanusiaan untuk korban gempa dan tsunami secara merata di setiap penampungan yang tersebar di tiap kecamatan dan pedesaan?, Apakah karena keterbatasan relawan atau memang Pemda Donggala belum memiliki data akurat tentang titik-titik penampungan pengungsian secara merata hingga masih banyak pengungsi yang makan pisang batu, kelapa kering dan bubur untuk mengganjal perut?

Seperti  hasil pantauan awak media ini yang terjadi di Kec. Sindue, Desa Marana, Kab. Donggala minggu 7 oktober 2018, Tepat di lapangan sindue ini terlihat sekitar 15 tenda penampungan dan tiap tenda menampung sebanyak kurang  lebih 40 pengungsi, dari hasil pantauan tersebut para pengungsi membeberkan kalau jatah makan mereka perhari cuma 3 liter beras, 3 bungkus mie instant serta 5 butir telur.

 ‘’Kami di tenda ini kurang lebih 40 orang, dan kami cuma dapat jatah makan perhari 3 liter beras, 3 bungkus mie instant dengan telur 5 butir’’, Ungkap Nani salah satu pengungsi yang rumahnya rusak parah akibat gempa dan tsunami beberapa waktu lalu.

‘’Itupun kami makannya cuma malam dan supaya cukup untuk 40 orang kurang lebih kami buat bubur, Pagi kami sarapan pisang batu yang di rebus (Pisang yang isinya penuh biji) dan siangnya kami kadang makan kelapa muda dan kalau malam baru makan bubur’’, Tambahnya.

Ditanya terkait siapa yang membagikan jatah tersebut Nani mengatakan kalau dia tidak tahu menahu,’’ Saya tidak tau yang bakasi itu siapa, apakah dari pemerintah atau relawan kami tidak tau’’, tutupnya.

Kisah menyedihkan ini tidak menutup kemungkinan terjadi di posko-posko pengungsian yang tersebar di Palu, Sigi dan Donggala, diharapkan agar Pemda Palu, Sigi dan Donggala agar lebih pro aktif dan memantau kinerja anggotanya di jajaran Kecamatan hingga Pedesaan karena Patut di duga bantuan kemanusiaan menjadi lahan meraup keuntungan oknum-oknum tertentu.’’ Kita bukan menuduh tapi bisa menduga kalau bantuan kemanusiaan tersebut bisa menjadi lahan untuk meraup keuntungan oknum-oknum tertentu, buktinya masih banyak penampungan pengungsian yang belum tersentuh, bahkan ada yang baru sekali mendapat bantuan’’, ungkap Ida yang juga salah satu mitra LPPMI (Lembaga Pemerhati dan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia)  di Donggala.

‘’Kami juga berharap agar Pemda Donggala, Palu dan Sigi memberikan pelayanan yang terbaik untuk warganya yang menjadi korban gempa dan tsunami agar mereka tidak merasa tersisihkan, kalaupun hari ini mereka memilih mengungsi ke luar daerah itu untuk mengobati trauma mereka yang menyaksikan pemandangan mengerikan yang menimpa perkampungan mereka yang menelan korban ribuan jiwa, toh mereka bertahan di kampung halaman juga tidak jelas nanti mau makan apa, lagian mereka juga takut terjangkit penyakit yang bisa jadi bersumber dari mayat-mayat yang menjadi korban gempa dan tsunami tersebut’’Tutupnya. (Herman/ Dona).

ARTIKEL TERKAIT

Please enter your name.
Please enter a valid phone number.
Please enter a message.
Please check the captcha to verify you are not a robot.