“Harga Obat Di RS.Hikmah Masamba Menggila”, Diduga Jadi Ajang Bisnis Oknum Dokter.
  Viewer : 740 Kali

Masamba | Libertiekspress, –

Mahalnya harga obat di Apotik salah satu Rumah Sakit swasta di Kota Masamba, Kabupaten Luwu Utara, dikeluhkan warga.
Hal ini diungkapkan Arsad, sahabat salah satu keluarga Pasien yang kini tengah menjaga keluarganya yang sedang menjalani Rawat Inap di Rumah Sakit yang terletak dipinggiran kota Masamba tersebut.

Bagaimana tidak, menurut Arsad, salah satu Obat yang disarankan dokter untuk digunakan pasien, ternyata mencapai harga 500 ribu rupiah per botol. Sedangkan dalam sehari, mereka harus membeli 2 botol obat untuk disuntikkan kepada kepada pasien keluarga sahabatnya yang tengah menjalani perawatan intensif saat ini.Ini berarti, keluarga pasien ini harus membayar satu jenis obat dengan harga 1 Juta per hari, ungkapnya kesal.

Kepada awak media, Arsad yang juga merupakan salah satu aktivist LSM LPPM Indonesia ini menjelaskan, pasien keluarga sahabatnya tersebut merupakan peserta asuransi kesehatan (BPJS,red) dengan fasilitas kesehatan ruang perawatan kelas 1. Namun sayangnya, lanjut Arsad, saat memberikan resep, dokter yang menangani justru memberikan resep obat yang tidak ditanggung BPJS dengan harga yang fantastis.

Dirinya mensinyalir, pemberian resep obat yang tidak masuk tanggungan BPJS dari oknum dokter dirumah sakit swasta tersebut merupakan “bisnis pasien” yang tujuan utamanya meraup keuntungan pribadi, atau mungkin kelompok.

Dugaannya itu pun semakin menguat saat dirinya melakukan pengecekan harga obat yang diberikan kepada keluarga pasien di tempat lain, ternyata harga obat tersebut hanya berkisar antara Rp. 85 ribu hingga Rp. 175 ribu per botol.
“Cobaki liat pak. Harga obat ini ditoko lain hanya Rp.85 ribu. Paling mahal Rp.175 ribu. Sedangkan di Apotik Rumah Sakit ini harganya Rp.500 ribu. Apa ini bukan pemerasan model baru.” tuturnya penuh emosi sembari memperlihatkan harga obat dibeberapa toko online.

Menyikapi hal ini, dirinya berencana akan melaporkan kejadian tersebut kepada beberapa instansi dan pejabat berwenang.
“Kami akan koordinasi dengan keluarga pasien. Jika mereka inginkan, maka kami akan melaporkan pihak managemen Rumah Sakit, hingga dokter yang menangani kepada pejabat berwenang.” terang Arsad.

Menurutnya, perbuatan dokter yang menangani pasien dengan merekomendasikan obat diluar tanggungan BPJS sudah patut diduga merupakan bisnis terselubung oknum dokter yang bekerja sama dengan pihak tertentu untuk meraup keuntungan berlebih dengan memanfaatkan kondisi pasien yang kebanyakan berada dalam kondisi “terpaksa”.

Perlu diingat, lanjut Arsad, pasien itu dilindungi oleh undang-undang. Selain dalam perarturan perundang-undangan tentang kesehatan itu sendiri, pasien juga telah dilindungi pemerintah melalui undang-undang perlindungan konsumen.

Intinya, terang Arsad, selain diduga telah menyalahgunakan kewenangan, dokter yang menangani pasien ini patut diduga kuat telah memperdayai pasien yang tengah berada dalam posisi ” lemah dan terpaksa”. tutupnya. (R1).

ARTIKEL TERKAIT

Please enter your name.
Please enter a valid phone number.
Please enter a message.
Please check the captcha to verify you are not a robot.